Slide

1 / 3
Silat Seruling Dewata
2 / 3
Silat Putri di Puncak Watukaru tahun (2016)
3 / 3
Silat Putra di Puncak Watukaru tahun (2016)

Perjalanan Ki Budhi Dharma - 11 s.d 20

 


Team Dokumentasi dan Publikasi Pasraman Seruling Dewata

www.serulingdewatabali.org


11.

Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana, adikku minggat meninggalkan istana, karena ingin menjadi Putra Mahkota, yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, ayahanda marah besar, hampir menitahkan hukuman mati untuk adikku, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih sayang kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalau adikku ditemukan, akan kuberikan gelar Putra Mahkota yang kusandang


12.

Sumpahku menggetarkan, semua pembesar istana tercengang, Ayahandaku dan ibunda ratu kaget dan membisu, suasana menjadi hening, diam tanpa sepatah kata, saling menunggu bicara pada saat itu, Pendeta yang memimpin upacara penobatan berbicara yang tenang penuh wibawa, yang terjadi biarlah terjadi


13.

Sudah ditakdirkan Pangeran muda ini, tidak berjodoh menjadi seorang raja, dia akan mengikutiku berkelana melanglang bhuana, dan akan menjadi orang besar yang tidak hanya dikenang rakyat negeri ini, tapi seluruh jagat raya akan mengaguminya sepanjang jaman


14.

Akhirnya atas petunjuk Pendeta maha suci, adikku berhasil ditemukan dalam tiga hari, serta langsung dinobatkan menjadi putra mahkota, adikku memelukku dengan penuh ucapan terima kasih. Dan aku pun pergi meninggalkan istana, mengikuti langkah pendeta maha suci memasuki hutan belantara


15.

Sambil menuju ke hutan, Pendeta Maha Suci bercerita tentang Dharma dan memperkenalkan dirinya bernama Swami Prajnatara, Pendeta maha Suci di Jambu Dwipa pada jaman itu, Aku bersyukur mendapat bimbingannya, tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.


16.

Di tengah hutan lebat di Puncak Nandhakat ketinggian 660 depa merupakan puncak paling rendah dari tujuh Puncak Himalaya, Pendeta Swami Prajnatara berhenti, setelah diam sesaat, puluhan pertapa datang mendekatinya, rupanya pertapa itu adalah murid-murid beliau, pelajaran pertama yang kuterima adalah, membuat sebuah pondok sendiri, di timur pertapaan tanpa bantuan siapapun


17.

Mendengar pelajaran pertama, aku kaget, bayangkan aku seorang pangeran, mana pernah aku bekerja berat, di istana semua tersedia tanpa diminta, sekarang aku harus bekerja keras, membuat pondok sendiri mana aku sanggup, dan lebih menyedihkan aku harus tidur di luar, di halaman beralas tanah beratap langit


18.

Berhari hari aku tidur di halaman, pekerjaan orang biasa lakukan dengan cepat, ternyata bagiku adalah pekerjaan yang sangat berat, ternyata begitu banyak guru yang mengajarku, di istana sia-sia saja, satu pun tidak ada yang mengajariku membuat rumah sendiri


19.

Bersyukur telik sandi dari istana, mengetahui tempat keberadaanku, tengah malam datanglah lima orang ahli bangunan bekerja cepat. Akhirnya besok paginya, pondok mungil pun telah selesai dibuat. Aku pun melaporkan hal ini, pada guru kerohanianku, beliau menyuruh menebang kayu, mencari kayu bakar, di kumpulkan di pondok yang baru selesai di buat.


20.

Malam hari, ketika Aku sedang khusus bermeditasi bersama sang Guru Swami Prajnatara, selesai meditasi, beliau menyuruhku membakar pondokku dengan tanganku sendiri, betapa sedihnya hatiku saat itu tak terlukiskan, malam itu aku tidur di halaman, Guru menyuruhku membuat pondok lagi, di sebelah barat pertapaan dengan tanganku sendiri.