Slide

1 / 3
Silat Seruling Dewata
2 / 3
Silat Putri di Puncak Watukaru tahun (2016)
3 / 3
Silat Putra di Puncak Watukaru tahun (2016)

Perjalanan Ki Budi Dharma - 1 s.d 10

 


Perjalanan Sesepuh Generasi I Perguruan Seruling Dewata 1. Maafkanlah hamba, Hanuraga yang hina oleh para Sesepuh Junjungan hamba. Semoga tidak mendapatkan kutukan karena hamba lancang menuturkan. Prihal Beliau para Sesepuh Paiketan Paguron Suling Dewata, yang harus dijunjung oleh seluruh siswa disepanjang jaman 2. Ketika masih kecil bergelimang kemewahan. Tidak pernah permintaanku yang tidak mampu dipenuhi kedua orang tuaku, karena karmaku aku dilahirkan di istana kerajaan, Ayahku adalah seorang raja, dan aku adalah anak sulung yang suatu saat akan memerintah negeri ini 3. Nama kecilku adalah BYANLU SYAMAR. Aku dilahirkan di sebuah kerajaan kecil di Jambu Dwipa (India), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras. Raja Sugandha adalah ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu diistimewakan 4. Kemanapun aku pergi dikawal banyak prajurit, yang selalu merasa kawatir keselamatanku, tidak banyak anak-anak sebayaku yang bermain denganku, apa yang kuinginkan selalu dipenuhi, banyak anak yang dihukum mati karena berani berebut sesuatu dengan ku 5. Apakah kehidupan seperti ini menyenangkan ? apakah keadaaan seperti ini yang selalu ku harap ? Semuanya itu sangat membosankan, aku ingin yang wajar-wajar saja, akupun sedih menyaksikan teman sepermainku dihukum berat 6. Setiap hari aku belajar sastra, kanuragan dan ilmu perang sesuai ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang raja nantinya. Dalam usia dua belas tahun aku telah mengusai dua puluh sembilan ilmu silat India kuno 7. Ilmu silat Kalarivayit, Ilmu silat Mathavan, Ilmu silat Vasudevan, Ilmu silat Naghabhavana, Pancakadka, Ksyatria Danda, Gadha Hanoman, Pancapana ilmu memanah yang dasyat dan sebagainya 8. Dalam belajar Sastra, kanuragan dan ilmu perang Akupun tidak merasa tentram, banyak Ki Hajar Sastra dan Ki Hajar Wira, Guru yang mengajarkan membaca, menulis dan surat menyurat, serta olah kanuragan berganti-ganti, tidak jarang seorang guru yang dihukum mati hanya karena kemajuan belajarku agak lambat karena kejenuhan dan kemalasanku 9. Aku merasa sedih dan sangat berdosa, banyak kematian sia-sia karena kesalahanku, lama kelamaan rasa bersalah dan berdosaku semakin menumpuk, menyebabkan aku menjadi seorang pendiam dan merasa bosan atas segalanya 10. Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran Mahkota dengan nama JAYA WARMAN. Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, Aku merasa tentram berada di dekatnya